FESTIVAL DANAU SENTANI VIII Budayaku Sejahteraku(My Culture My Properous)

Danau Sentani berada di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops yang memiliki luas sekitar 245.000 hektar. Danau ini terbentang antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura Provinsi Papua. Dengan luas lebih dari 9 ribu hektar menjadikan sebagai danau terbesar di Papua. Berada di ketinggian, hawa Danau Sentani begitu sejuk. Namun tetap saja, seperti sebagian besar wilayah di Papua, saat siang hari begitu panas.

Gambar1

(Gambar 1. Pemamdangan Danau Sentani dari ketinggian tugu Mac Arthur)

Ada banyak pulau-pulau kecil yang tersebar di danau ini. Ada sekitar 22 pulau dan sebagian besar dihuni Suku Sentani. Ada sekitar 24 kampung yang menempati Danau sentani. Setiap kampung mempunyai keunikan dan tradisi masing-masing.

Danau Sentani menjadi tenar dengan adanya festival tahunan yaitu “Festival Danau Sentani” yang berlangsung setiap bulan Juni dan sudah menjadi Kalender Nasional.

Tema yang diusung Budayaku Sejahteraku dalam FDS ke VIII, memang demikian budaya itu tidak hanya membahagiakan tetapi juga menghidupkan. Festival ini diisi dengan tarian-tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, upacara adat seperti penobatan Ondoafi, Suling tambur dan sajian berbagai kuliner khas Papua.

Gambar5

(Gambar 2)

Selain tarian dan budaya kita bisa berjalan mengunjungi stand-stand yang ada di Festival Danau Sentani.

Gambar10

(Gambar 3 Antusias warga mengunjungi stand FDS)

Memasuki kawasan dermaga Kalkhote, tepian Danau Sentani. Mama Mama Pengrajin noken tas khas Papua berjejeran menjual hasil karyanya.

Gambar12

(Gambar 4)

Gambar13

(Gambar 5)

 

Perjalanan kecil saya di awal bulan Ramadhan ini  berakhir, dengan berharap tahun depan bisa mengunjungi Festival Danau Sentani berikutnya,,,,,,,!!!

NEXT Exploring Papua…….

 

Teks oleh Yadin Apri
Foto oleh Yadin Apri

“KEDUNG MALEM” POTENSI KEINDAHAN YANG TERLUPA

Masih ingatkah kita perjalanan menuju Kecamatan Kare pada edisi lalu? Sebuah wilayah dimana sebetulnya menyimpan banyak sekali potensi keindahan alam. Namun sayang, wilayah itu seperti kehilangan pamornya. Tidak banyak orang yang ingin berkunjung kesana. Oke, kali ini kita akan mencoba membahas pesona alam yang terletak di kecamatan tersebut.

Ya pada edisi ini, kami akan menyorot salah satu air terjun yang terletak di Desa Seweru, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Warga sekitar menyebutnya air terjun Kedung Malem. Air terjun ini berjarak kurang lebih 31 Km dari pusat kota Madiun.

Cukup mudah untuk menuju ke desa tersebut. Namun kami sarankan untuk menggunakan sepeda motor manual atau pun mobil yang tangguh. Kenapa? Karena typical jalan yang naik turun dan berbatu akan menjadi teman setia di sepanjang perjalanan.

Untuk menuju kesana, kita terlebih dulu harus sampai di Pasar Kare. Jika berangkat dari Madiun, tancap gas saja ke arah timur. Kita akan melewati Kecamatan Wungu, membelah kawasan hutan lindung, dan sampai lah kita di Pasar Kare. Tepat di pasar, aka nada pertigaan. Dari situ kita akan berbelok ke kanan menuju ke arah Kantor Desa Kare dan Kandangan. Ikuti terus jalan tersebut. Kita akan melewati perkampungan-perkampungan yang sangat asri.

Foto 1. Jalan berkelok-kelok menembus wilayah hutan lindung di Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.

Kemudian kita akan menemui sebuah jalan bercabang. Lurus saja, masuk melewati gapura selamat datang. Disebelah gapura tersebut juga ada papan penunjuk kecil ke arah air terjun. Mulai dair sini jalanan agak kurang bersahabat karena semua jalan mulai terbuat dari batu dan semen cor.

Kurang lebih 500 meter dari gapura tersebut akan ada sebuah pertigaan kecil ke kiri. Kita bebelok ke kiri dan jalanan akan menurun. Hati-hati keran turunan ini cukup curam. Sekitar 300 meter kita akan sampai di sebuah perkampungan. Tepat ketika kita memasuki perkampungan, disebelah kiri akan ada gapura yang bertuliskan air terjun Kedung Malem.Kita masuk ke dalam dan disitu kita bisa menitipkan kendaraan kita di rumah warga.

Foto 2. Vegetasi di wilayah leren Wilis masih sangat lebat dan liar. Suasana khas hutan hujan tropis.

Dari penitipan kendaraan tersebut. Kita diharuskan berjalan kaki sekitar 1,5 Kilometer untuk bisa menacpai air terjun tersebut. Saya sarankan untuk memakai alas kaki yang sangat kuat dan anti selip yaitu sandal gunung atau sepatu gunung. Kita akan berjalan mengikuti jalan yag terbuat dari semen cor. Kurang lebih 500 meter kemudian, kita akan sampai di lahan yang dipenuhi bambu. Sesampai di lahan bamboo, tengoklah kea rah kiri dan kita akan menemukan jalan setapak kecil menuruni bukit. Saya ingatkan berhati-hatilah karena setapak ini sangat lah licin dan sempit. Kita diharuskan menuruni bukit ini hingga habis sampai ke dasar. Di dasar bukit akan ada sungai.

Foto 3. Jalan setapak menurun curam menuju bibir sungai. Setapak yang masih berupa tanah seperti ini sangat licin ketika basah.

Perjalanan masih belum berakhir. Dari sungai ini kita diharuskan berjalan menyusuri tepian sungai ke arah sumber air. Ya kita akan berjalan melewati sungai, jadi jangan pernah takut basah atau kotor. Track nya pun cukup menantang, kita harus pandai-pandai memillih batu pijakan untuk dilewati. Perjalanan mengarungi sungai ini akan berlangsung sejauh 300 meter. Namun susah payah kita akan terbayar sudah. Sampai lah kita di air terjun Kedung Malem.

Foto 4. Air Sungai yang masih jernih dipadu dengan intensitas tumbuhan yang lebat khas hutan hujan tropis.

Masih sangat sangat asri. Luar biasa, kawasan hutan yang masih sangat lebat khas hutan hujan tropis. Udara pun masih sangat sejuk dan terpaan embun air terjun terasa sangat segar ketika mengenai wajah. Sungguh tidak bisa dipercaya jika tempat ini ada di Madiun.

Foto 5. Air Terjun Kedung Malem yang terletak Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.

Foto 6. Masih sangat alami. Itulah salah satu yang membuat air terjun ini menarik perhatian kami. Airnya pun sangat jernih. Mengalir dari atas lereng Gunung Wilis.

Setelah dirasa cukup mengabadikan keindahan alam disana. Kami pun bergegas kembali ke atas. Kami kembali menyusuri sungai kembali ke tempat pendaratan awal. Selanjutnya bisa ditebak, apa yang akan terjadi jika kita kembali naik dari sebuah air terjun? Ya tanjakan yang gila-gilaan. Tanpa bonus dataran apalagi turunan, dan yang pasti akan terus menanjak.

Benar-benar perjalanan yang luar biasa. Tempat yang wajib dikunjungi bagi mereka yang ingin merasakan dan menikmati alam. Alam yang belum banyak terkotori oleh tangan-tangan jahil manusia. Dan sekali lagi, keindahan itu ada di Madiun.

“MADIUN TIMUR” MENYIBAK ELOKNYA LERENG WILIS

Kabupaten Madiun, Jawa Timur, memiliki luas wilayah 1.010,86 Km2. Jika kita melihat peta wilayah Kabupaten Madiun, maka akan kita ketahui bahwa sebagian besar wilayah kabupaten ini terletak di sisi timur berdempetan dengan lereng Gunung Wilis. Salah satu gunung di Jawa yang pernah dilalui rute gerilya Jenderal Sudirman. Gunung ini juga menjadi salah satu gunung yang jarang didaki di Jawa Timur.
Sekedar informasi, Gunung Wilis sendiri sebetulnya adalah sebuah gunung yang memiliki tiga puncak. Ketiga puncak tersebut adalah Puncak Wilis, Puncak Ngliman, dan Puncak Limas. Jalur pendakian ke Gunung Wilis pun sangat beragam. Terdapat banyak sekali pilihan jalur untuk menuju ketiga puncak tersebut. Madiun memiliki satu jalur menuju ke puncak gunung. Jalur tersebut terletak di Kecamatan Kare, tepatnya di daerah Pulosari, Desa Kandangan. Dua jalur lainnya bisa ditempuh melaui Nganjuk, yaitu jalur Bajulan (melewati air terjun Roro Kuning) dan jalur dari Air Terjun Sedudo (jalur ini sangat jarang dilewati). Satu jalur lagi terdapat di Kota Kediri, tepatnya di Kecamatan Mojo. Kota Tulungagung memiliki satu jalur dan inilah yang dianggap paling favorit karena kita akan melewati perkebunan teh dan sebuah situs purbakala yaitu Candi Penampihan. Jalur ini terdapat di Kecamatan Sendang. Dikabrkan juga bahwa Ponorogo memiliki jalur pendakian ke puncak, namun masih kurang bisa terkonfirmasi karena hanya jalan rintisan buatan warga desa setempat untuk mencari rerumputan.

Foto 1. Daerah lereng Wilis sangat didominasi oleh area persawahan.

Entah mengapa kami sangat jarang mendengar ada pendakian ke gunung Wilis. Mungkin karena ketinggian gunung tersebut yang hanya 2563 mdpl dan kurangnya pengelolaan jalur pendakian dari masing-masing daerah diatas. Di Madiun sendiri tidak ada pos pendakian menuju kesana. Kita hanya ijin biasa ke petugas Perhutani di Kebun Kopi Kandangan. Jadi jangan harap kita akan menemui pos-pos pendakian menuju puncak. Untuk itu kami sarankan jangan menuju ke puncak-puncak tersebut jika dalam kelompok tidak memiliki pemandu rute.

Kali ini kami tidak akan membahas eksplorasi ke Gunung Wilis. Namun sedikit turun ke bawah di sisi barat lereng Gunung ini. Kebanyakan masyarakat Kota Madiun jarang sekali ada yang pergi ke lereng gunung ini. Mungkin yang mereka kenal hanyalah kawasan wisata Grape dan juga Monumen Keganasan G30S PKI yang terletak di Desa Kresek. Maklum saja, sisi barat lereng Wilis ini tidak seperti lereng lawu yang dipenuhi pohon pinus dan berhawa sejuk. Malah justru sebaliknya, udara di lereng tersebut terasa kurang sejuk. Hal ini membuat orang Madiun seolah lupa jika memilik lereng indah di sisi timur rumah mereka.

Foto 3. Hutan Jati sepeti ini banyak dijumpai di bawah lereng Gunung Wilis.

Pada kesempatan kali ini, kami mencoba untuk mengeksplorasi lereng Wilis tersebut. Kami mengambil foto-foto dari beberapa desa yang terletak di lereng Wilis tersebut. Melewati jalanan berliku mulai dari Kecamatan Wungu, Kecamatan Kare, hingga Kecamatan Dagangan. Kami pun merekam gambaran indah dari lereng ini. Sedikit banyak bisa menepis anggapan orang bahwa di area ini tidak ada yang menarik. Selamat datag di sisi timur Madiun. Sejarah dan keindahan alam yang terabaikan.
Tidak jauh dari pusat Kota Madiun, ada sebuah perbukitan kecil. Masyarakat menyebutnya dengan Bukit Kendil. Sebetulnya tempat ini adalah tambang galian. Dulunya memang sebuah bukit yang masih utuh. Namun sekarang sudah terkikis oleh akibat penambangan tersebut. Satu hal yang menarik dari tempat ini adalah adanya sebuah pohon yang berdiri tegak tepat diatas bukit tersebut. Membuat tempat ini semakin unik.

 

Foto 4. Perbukitan Kendil yang unik ini terletak tidak jauh dari sisi barat lereng Wilis .

 

Foto 5. Bebatuan di perbukitan ini sangatlah unik. Terdapat lapisan-lapisan tanah yang masing-masing lapisnya mempunyai ciri tersendiri.

 

Foto 6. Kubangan air seperti ini banyak kita temui di atas perbukitan kendil ini. Airnya pun cukup jernih.

 

 

Foto 7. Pohon ini menjadi satu-satunya pohon yang berdiri di perbukitan tersebut. Terletak di puncak bukit. Dan hanya ini lah vegetasi yang tersisa.

Bergerak jauh lagi ke arah timur menuju lereng. Mata kita akan disuguhi oleh pemdangan sawah yang sangat menarik karena terletak di tanah yang miring. Sistem terasering pun banyak diterpakan disini. Menjadikan persawahan di Madiun Timur ini layaknya persawahan di Pulau Dewata.

 

Foto 8. Sepanjang jalan di lereng, kita akan disuguhkan dengan pemandangan indah terasering persawahan seperti ini.

 

Foto 9. Sebuah gubuk berdiri di kelilingi oleh persawahan yang berjajar di sepanjang lereng.

Foto 10. Di Kecamatan Kare. Banyak terdapat waduk-waduk kecil sebagai penyimpan cadangan air bagi persawahan. Selain itu waduk seperti ini juga difungsikan sebagai pengendali aliran air dari gunung.

Foto 11. Sungai di bawah lereng wilis memang sangat menarik. Dipenuhi dengan bebatuan dan alirannya yang cukup deras.

 

Kecamatan Kare

Merasa wilayah timur masih sangat luas, kami pun masuk lagi semakin ke timur. Kendaraan kami masuk ke wilayah hutan lindung yang dipenuhi oleh pohon jati. Suasana rindang menyelimuti perjalanan kami melewati jalanan yang berliku. Akhirnya kami pun sampai di Kecamatan Kare. Kecamatan yang terletak di ujung tenggara dari wilayah Kabupaten Madiun. Daerah ini berjarak kurang lebih 28 Km dari pusat Kota Madiun.

Patung Retno Dumilah berdiri tegak di perkampungan ini. Menurut sejarah, Retno Dumilah adalah seorang ksatria perempuan yang telah babat alas mendirikan wilayah Madiun.

Kecamatan Kare memiliki populasi 35,000 jiwa yang terbagi di delapan desa. Lebih dari separuh wilayahnya berada di lereng Gunung Wilis. Desa-desanya pun masih sangat asri dan penduduknya ramah sekali.

Ada alasan kuat mengapa kami ingin menjelajahi Kare. Kami yakin kecamatan ini masih menyimpan segudang pesona alam yang belum begitu tereksplore. Maklum sangat jarang sekali wisatawan atau bahkan masyarakat Madiun sendiri yang memilih menuju kesini untuk berwisata. Kebanyakan mereka akan memilih untuk menikmati sejuknya wilayah pegunungan di Magetan.

Berbekal informasi dari teman dan warga. Kami pun berniat untuk merekam keindahan alam lereng Wilis yang masih tersembunyi. Dari penelusuran, kami berhasil mengantongi sejumlah tempat-tempat yang memiliki pesona alam yang luar biasa. Mari ikuti catatan perjalanan kami berikutnya di wilayah Kare. (Bersambung)

NEXT EXPLORING WEST PART OF EAST JAVA HUTAN PRANTEN: RUTE LAMA YANG TERLUPA

Hutan Pranten terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah; tepatnya di Dukuh Tlogodringo, Dusun Gondosuli Lor, Desa Gondosuli. Sangat mudah menemukan tempat ini, karena terletak di pinggir jalan raya Magetan-Karanganyar. Dukuh ini hanya berjarak satu kilometer dari jembatan perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Salah satu ciri yang menonojol dari tempat ini adalah adanya sebuah vihara yang berdiri di sisi timur dukuh.

Kami masing-masing berangkat dari Madiun dengan meeting point di depan pos pendakian Cemoro Sewu, Magetan. Tepat pukul 06.00 WIB semua personel sudah berkumpul dan siap melanjutkan perjalanan menuju Karanganyar. Setelah satu kilometer lepas dari perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, kami pun melihat dukuh di sisi kiri. Berselimut kabut tipis, dukuh ini terlihat sangat tenang dan damai. Di sisi timur, nampak bangunan menyerupai menara yang tak lain adalah vihara. Masyarakat dukuh menyebutnya dengan Vihara Lawu.

Jalanan indah akan kita lewati sepanjang perjalanan melewati lereng Gunung Lawu. Jalan ini akan mengantarkan kita sampai ke Karanganyar, Jawa Tengah.

Foto 1. Jalanan indah akan kita lewati sepanjang perjalanan melewati lereng Gunung Lawu. Jalan ini akan mengantarkan kita sampai ke Karanganyar, Jawa Tengah.

Memasuki dukuh kami segera mencari rumah warga yang bisa kami mintai pertolongan sebagai tempat penitipan motor. Akhirnya kami pun menemukan rumah salah seorang warga yang dengan senang hati menawarkan halamannya untuk parkir motor kami. Kebetulan juga lokasi rumah tersebut dekat dengan vihara tadi. Selesai mempersiapkan peralatan, kami bergegas menuruni bukit di samping vihara. Dan pemandangannya pun sangat luar biasa.

Foto 2. Pemandangan Indah Perkebunan Strawberry dari Bawah Vihara Lawu, Dusun Tlogodringo.

 

Foto 3. Ladang telah selesai digarap dan siap untuk ditanami sayuran dan buah-buahan.

Hamparan luas tanaman sayuran dan strawberry terpapar di hadapan mata kami. Terlihat beberapa warga dukuh sedang menggarap lahan. Sepertinya mereka baru saja memanen strawberry dan bersiap untuk musim tanam selanjutnya. Berbekal informasi dari sekelompok orang yang kami temui pada minggu sebelumnya, kami pun berjalan terus mengikuti setapak kecil yang berliku. Melewati hijaunya padang rumput yang terhampar luas. Hewan-hewan ternak dengan asyiknya merumput di pagi hari.

Foto 4. Rerumputan di dusun ini cukup lebat dan sangat hijau. Tempat ideal untuk berternak kambing di dataran tinggi seperti ini.

Kita flashback sebentar, sebetulnya kami tidak berniat untuk datang ke tempat ini. Namun karena dua minggu yang lalu ketika kami berhenti untuk melihat-lihat perkebunan disini, ada sekelompok orang yang muncul dari balik bukit. Ada yang aneh karena mereka terlihat bukan lah warga asli dukuh ini. Kebanyakan adalah orang tua dan mengenakan pakaian rapi. Spontan kami bertanya dari mana mereka. Orang-orang tersebut menjawab bahwa mereka baru saja dari sebuah sendang (sumber air) yang berada di alas Pranten (Hutan Pranten). Berbekal informasi itu lah kami bertekad meneksplore hutan tersebut.

Foto 5. Terlihat orang-orang yang baru saja melakukan ritual di sumber mata air telah kembali dari Hutan Pranten yang terletak di belakang mereka.

 

Foto 6. Rombongan peziarah ini berasala dari berbagai daerah di sekitaran Gunung Lawu. Bahkan ada diantara mereka yang berasal dari Cilacap.

Entah hanya insting kami saja atau bagaimana, yang jelas kami tiba-tiba tertarik sekali untuk masuk jauh lebih dalam ke hutan itu nantinya. Apalagi kami teringat ucapan Pak Wagimin, warga Dusun Ngancar beberapa waktu yang lalu. Dia mengatakan bahwa jaman dahulu kala ada sebuah jalan setapak melalui hutan mulai dari dusunnya yang terletak di bawah Telaga Sarangan menuju ke Cemoro Sewu (Jawa Timur) dan Cemoro Kandang (Jawa Tengah). Namun menurut dia, jalan setapak itu kemungkinan sudah tidak ada karena terutup oleh lebatnya hutan.

Sepanjang perjalanan, kami membayangkan menemukan jalan setapak tersebut. Dengan penuh semangat, kami pun tancap gas melewati kebun sayur dan strawberry. Selepas melewati hamparan luas ladang perkebunan ini, kami menuju ke sebuah bukit kecil mengikuti jalan setapak tadi. Akhirnya sampai lah kita di atas bukit tersebut. Ternyata di balik bukit tersebut sudah masuk wilayah hutan, dan selamat menjelajah.

Foto 7. Hutan Pinus yang lebat masih tertanam asri di sepanjang jalan setapak menuju hutan.

Pada awalnya, kami tidak menemui kendala apapun. Jalan setapak yang kami lalui masih terlihat jelas dan lebar. Baru lah kira-kira 15 menit berjalan kaki, jalan tanah ini mulai menunjukkan sikap yang tidak bersahabat. Jalanan ini bercabang-cabang, banyak sekali persimpangan. Awalnya kami ragu akan memilih jalan yang mana. Akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalan yang terlihat paling sering dilewati saja. Hal ini terlihat dari kontur tanah yang sedikit amblas dan juga ada beberapa bekas plastik makanan yang berserakan di tepian jalan. Agar tidak tersesat kami pun memasang penanda berupa plastik merah yang diikatkan pada batang-batang pohon. Mengingat begitu banyak persimpangan disini, mengandalkan kompas bidik saja tidak cukup. Terkadang kita masih harus menggunakan cara-cara konvensional seperti ini. Never compromise with nature.

Semakin jauh kami masuk, suasana pun semakin hening. Terdengar bermacam-macam suara burung, ayam hutan, juga suara anjing liar sejenis Ajax. Sungguh surga bagi penggemar fotografi wildlife. Begitu kayanya keanekaragaman hayati disini. Tumbuhan di hutan ini pun beraneka ragam dan sangat lebat. Sungguh suatu kebangaan melihat hutan ini masih terawat dengan baik. Dan kam pun terus masuk ke hutan. Dan terus masuk ke dalam. (Bersambung).

Foto 8. Memasuki hutan, medan mulai terasa sangat sulit. Tumbuhan menjalar mulai menutupi jalan setapak.

 

Foto 9. Vegetasi yang masih alami terlihat begitu kita mulai memasuki wilayah hutan.

GREBEG SURO 2014 – THE CLOSING CEREMONY

Tepat dua minggu yang lalu kami dari NEXT dan beberapa teman dari berbagai komunitas fotografi berkesempatan menghadiri dan mendokumentasikan acara acara tahunan pentupan Grebeg Suro 2014 yang dihelat oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo Jawa Timur, mulai dari kirab budaya mengelilingi jalan-jalan protokol kota hingga acara di panggung alun-alun kota. Dan berikut kami ingin berbagi hasil dokumentasi kami yang kami rangkum dalam “GREBEG SURO 2014 – THE CLOSING CEREMONY” :

Gambar oleh : Yudi Indra Setyawan

 (Pasukan Berkuda)

 

 (Brown Horse)

 

 (Pasukan Berkuda)

 

 (Tarian Tradisional)

 

 (Prabu Klono Sewandono)

 

 (Prabu Klono Sewandono dan Reyog Ponorogo)

 

  ———————————————————————————————————–

Gambar Oleh : Reza Praditya Sularso 

 (Like 2 Face)

 

 (Membetulkan)

 

 ( S e l i r )

 

(Aku Terabaikan)

 

 (Kaki Dayang Suro Ponorogo)

 

 (Berbisik)

 

———————————————————————————————————–

Gambar Oleh : Farid Syaiful Hidayat

 

(Sang Putri)

 

 (Tersenyum)

 

 (R A T U)

 

 (Dewi – Dewi)

 

 (Vespa Skull)

 

 

NEXT: EXPLORING WEST PART OF EAST JAVA

PART 2 – CANDI CETHO: Warisan Leluhur di Lereng Barat Gunung Lawu

Teks oleh Yudi Indra Setyawan

 

Komplek bangunan Candi Cetho yang berada di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini memiliki panjang 190 meter dan lebar 30 meter. Candi Cetho sendiri terletak di ketinggian 1496 mdpl.

Foto: Kompleks Candi Cetho yang menyerupai punden berundak.

Candi Cetho memiliki latar belakang candi agama hindu. Pola halamannya berteras dengan susunan 13 teras meninggi ke arah puncak. Bentuk bangunan berteras seperti ini mirip dengan bangunan punden berundak pada masa prasejarah. Selain itu bentuk-bentuk arca-arcanya pun masih sangat sederhana dan belum menunjukkan ciri kedewaan.

Candi ini pertama kali dikenal dari laporan penelitian Van Der Vilis pada tahun 1942. Kemudian penelitian dan pendokumentasiannya dilanjutkan oleh W. F. Stuterheim, K. C. Crucq, dan A. J. Bernet Kempers. Barulah pada tahun 1976, penelitian dilakukan Indonesia oleh Riboet Darmosoetopo dkk. Selanjutnya juga dilakukan pemugaran dan rekonstruksi pada tahun yang sama oleh Sudjono Humardani. Rekontruksi yang sulit mengingat sudah sangat tuanya peninggalan candi ini. Akibatnya rekonstruksinya pun hanya berdasarkan perkiraan bukan pada kondisi asli.

Prasasti dengan huruf jawa kuno pada dinding gapura teras VII berbunyi “Pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397”. Kalimat tersebut dapat ditafsirkan peringatan pendirian tempat peruwatan atau membebaskan diri dari kutukan yang didirikan pada tahun 1397 saka atau 1475 masehi.

Foto: Prasasti penanda dibangunnya Candi Cetho

Foto: Prasasti kura-kura yang terdapat di altar Candi Cetho

Foto: Relief kura-kura jika dilihat dari atas mneyerupai bentuk garuda. Hal in dikarenakan adanya penambahan relief berupa sayap.

Sengakalan memet (angka tahun yang digambarkan dalam bentuk binatang, tumbuhan, dan lain sebagainya) berupa tiga ekor katak, mimi, ketam, seekor belut, dan tiga ekor kadal. Menurut Bernet Kempers, arca mimi, ketam, dan belut merupakan sengkalan yang berbunyi welut (3) wiku (7) anahut (3) iku=mimi (1) sehingga ditemukan angka 1397 saka.

Di area candi ini pun juga ditemui pahatan-pahatan lainnya yang menggambarkan cerita. Cerita Samudramanthana dan Cerita Garudeya menghiasi lempeng-lempeng batu disekeliling candi ini.

Foto: Relief yang menggambarkan cerita garudeya

Arca-arca yang terdapat di area candi pun juga unik karena arca-arca yang berbentuk manusia tersebut hingga sekarang masih belum dapat didentifikasi satu persatu. Namun secara umum arca tersebut tidak menunjukkan ciri-ciri dewa tertentu. Barangkali arca tersebut merupakan cerminan dari tokoh-tokoh pewayangan.

Foto: Arca yang terdapat di pintu masuk Candi Cetho

Bergerak naik ke punden paling atas, kami melihat sebuah bangunan kotak yang dikelilingi batu. Penasaran kami pun mencari jalan lain sembari berpikir bagaimana caranya supaya bisa naik ke bukit di belakang punden tersebut untuk melihat apa isi dibalik dinding batu tersebut. Akhirnya kami pun menemukan pintu kecil di sisi kiri pagar punden. Begitu masuk kami melihat ada jalan setapak kecil mengarah ke atas bukit. Spontan kami ikuti jalan itu, dan benar saja, akhirnya kami sampai di bukit di belakang bangunan tadi. Dan rasa penasaran kami pun terjawab sudah, seperti ini ternyata isi dari dinding batu tadi.

Foto: Isi punden paling atas Candi Cetho

Foto: Rumah joglo kuno menghiasi sekeliling puncak punden.

Foto: Struktur rangka bangunan joglo masih tetap dipertahankan utuh dan asli.

Selsai mengambil gambar kami pun beriap turun, namun masih ada yang mengganjal mengenai jalan setapak kecil tadi. Jalan tersebut kecil dan terus mengarah ke atas bukit. Penasaran lagi, kami pun mengikutinya. Dan sebuah kejutan nampak di depan. Kami disambut oleh seorang putri yang memiliki empat tangan dan dikelilingi oleh angsa-angsa. Lebih mirip disebut dewi tepatnya. Ya ternyata di belakang canfi ini terdapat sebuah taman dengan patung Saraswati di tengahnya. Di sampingya pun terdapat bangunan seperti rumah joglo untuk menyimpan sesaji yang dinamai Meru. Tepat di samping taman tersebut juga terdapat sendang atau sumber air yang tidak pernah kering. Tempatnya sedikit lebih wingit, bau dupa menusuk tajam. Belum lagi adanya pohon beringin besar tepat di atas sumber air tadi.

Foto: Taman Saraswati

Foto: Potret Dewi Saraswati.

Foto: Bangunan Meru dan sendang yang terletak tepat disamping Taman Saraswati.

Puas eksplorasi dan mengambil gambar, kami pun bergegas untuk turun demi mengejar sunset di sore hari. Karena gapura-gapura candi ini tepat menghadap ke barat dan tepat dimana matahari turun di ufuk barat. Namun sayang, sore itu mendung menyelimuti langit barat, jadi kami tidak bisa melihat sunset di sore itu. Dengan sedikit putus asa, kami pun memutuskan untuk pulang. Tetapi kami pulang dengan harapan besar untuk kembali datang kesini dan mengabadikan lagi sunset sore beserta gugusan Milky Way di malam hari.

Harapan itu lah yang akan membawa kami kembali menjelajahi Jawa Timur bagian barat ini. Harapan itu lah yang akan membuat kami bercerita dan menggambar lagi. Candi Cetho, kami akan datang lagi padamu dan akan pulang dengan membawa cerita dan gambar yang lebih menarik. (yud)

NEXT: EXPLORING WEST PART OF EAST JAVA

PART 1 – LAWU’S BEAUTY & ITS HERITAGE

Teks oleh Yudi Indra Setyawan

 

Jawa Timur, salah satu provinsi tertua yang terdapat di Pulau Jawa. Keindahan alamnya telah dikenal oleh seluruh masyarakat dunia. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Baluran, Pantai-pantai selatan yang eksotis, gua-gua alami di Pacitan dan pegunungan-pegunungan indah telah menjadi kontributor utama provinsi ini.

NEXT kali ini akan mencoba mengekplorasi Jawa Timur dimulai dari sisi barat provinsi ini. Sebuah gunung yang menjadi pembatas antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebuah gunung yang disakralkan oleh Sinuwun Kesultanan Solo. Dengan tinggi, 3.265 mdpl, Gunung Lawu telah menjadi ikon tersendiri bagi warga Jawa Timu bagian barat dan Jawa Tengah bagian timur.

Perjalanan kami pun berawal dari sebuah desa bernama Ngancar yang terletak tepat di bawah Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan. Bertempat di rumah salah satu penduduk bernama Pak Wagimin, kami mulai merencanakan perjalanan kami untuk menelusuri daerah eksotis di lereng Gunung Lawu.

Keramahan penduduk lokal membuat perjalanan kami menjadi lebih bermakna. Di rumah Pak Wagimin pun kami disuguh dengan hidangan dadakan yang sangat istimewa bagi kami; mie rebus, telor ceplok, dan tempe. Suasana ramah pun tercipta hingga kami bersiap untuk istirahat malam dan menyambut datangnya sang surya esok.

Pagi itu pukul 04.00 WIB, kami terbangun dan bergegas keluar rumah untuk melihat cuaca Sangat cerah subuh itu. Selesai kami menyiapkan perbekalan dan melakukan sholat subuh, kami pun berangkat menyusuri lereng Gunung Lawu dan pedesaan yang ada di sekitarnya.

Udin, anak Pak Wagimin, bersedia menemani kami melakukan eksplorasi. Baru lulus dari sebuah SMK, Udin pun kini bekerja sebagai seorang maintenance di sebuah pusat perbelanjaan di Madiun. Berbekal informasi dari dia, kami bertiga pun tancap gas menuju Telaga Sarangan.

Melewati jalanan terjal dan curam yang menanjak, dia membawa kami menuju sebuah villa kosong yang lokasinya tepat berada di atas telaga. Disana dia mempersiahkan kita untuk enikmati keindahan desanya dengan latar belakang Telaga Sarangan. Tanpa basa-basi, kami pun segera menyiapkan peralatan tempur kami, tidak lupa kami menggelar matras dan menyalakan kompor plus teko air untuk membuat kopi. Sebuah citarasa khas Indonesia dan semangat di pagi hari.

Benar saja, pemandangan dari atas sini begitu indahnya. Lautan awan menggulung layaknya ombak disaat bulan purnama. Rekan saya pun segera mengambil gambar untuk mengabadikan momen ini.

Sunrise dari salah satu villa di lereng Gunung Lawu

Telaga Sarangan yang terletak di lereng Gunung Lawu nampak begitu indah.

Beberapa penginapan dan Hotel disekeliling telaga terlihat seperti mengambang diatas awan.

Luar biasa indahnya desa di lereng Lawu ini. Kami bertiga menikmatinya sambil meneguk sedikit demi sedikit kopi panas yang tadi kami hidangkan.

Setelah dirasa cukup, kami bertiga pun melanjutkan perjalanan menuju titik paling ujung desa ini. Perjalanan turun pun menjadi sangat mengesankan. Di sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh pemandangan yang luar biasa indahnya. Tanpa dikomando, kami pun segera menghentikan laju sepeda motor dan mengambil gambar di sepanjang perjalanan. Amazing..

Pemandangan luar biasa di sepanjang jalan berkelok di sisi-sisi gunung.

Jalanan pedesaan menuju perkampungan di sekitar Telaga Sarangan.

Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya kami terkagum oleh indahnya kontur alam di lereng Lawu ini. Motor kami pun melibas jalanan berbatu dan berpasir dengan gagahnya mencoba mencari tahu ujung jalan desa ini.

Dan sampailah kita di ujung desa ini dan juga ujung jalan dari desa ini. Dan ternyata adalah: jalan buntu hahaha… Tertawa, kesal, penasaran, semua bercampur aduk disitu. Daripada balik arah, kami pun kembali menggelar matras dan menyiapkan makan siang disitu. Dan memang luar biasa sekali tempat ini. Kami pun baru menyadarinya dan bergegas mengambil peralatan gambar kami sembari menikmati santapan siang itu.

Tuhan memang Maha Besar. Dialah pencipta segala keindahan di dunia ini.

Pemandangan indah dari salah satu sudut desa.

Semangat dan masih terus semangat. Kami pun berencana melanjutkan perjalanan lagi ke arah barat menuju ke perbatasan Jawa Tengah. Tujuan kami berikutnya adalah sisi barat Gunung Lawu yang teritorinya sudah masuk ke Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Disitu terdapat sebuah bangunan kuno berupa candi. Banyaknya kebudayaan lokal dan daerah yang masih belum terjamah keindahannya oleh kamera membuat kami tergerak untuk mengabadikannya. Mari kita mulai dari sisi barat gunung ini. (yud)

 

Kota Jayapura

Kota Jayapura

(Hen Ticahi Yo Onomi T’mar Ni Hanased)

Satu Hati Membangun Kota Demi Kemuliaan Tuhan

 

Akhirnyaaa… perjalanan membawa saya kembali ke tanah kelahiran provinsi paling timur Indonesia, Papua.

Yups…Papua. Senang rasanya bisa menginjakan kaki ke sini. Setelah 4 tahun menimbah ilmu di Kota Malang. Sebagai ibukota Papua, Jayapura menyimpan banyak potensi wisata yang menarik, mulai dari kemolekan alam yang memu­kau mata hingga festival budaya yang meriah.Penasaran dengan Papua ini luas ini…? ini dia cerita singkatnya……!

Kota Jayapura adalah ibukota provinsi Papua. Kota ini terletak di Teluk Jayapura. Nama Kota Jayapura pada awalnya adalah Holandia dimana nama tersebut di berikan oleh Kapten Sachse pada tanggal 07 Maret 1910. Arti Holandia adalah Hol berarti lengkung atau teluk dan land berarti tanah atau tempat yang berteluk, sehingga Negeri Belanda atau Holland atau Nederland, geografinya menunjukkan keadaan berteluk-teluk. Geografi Kota Jayapura hampir sama dengan garis pantai utara negeri Belanda.

Gambar 1. Pemandangan dari Jayapura City dari pusat kota Jayapura, jaraknya hanya 10 menit dengan rute menanjak.

Luas Kota Jayapura adalah 940 Km2 atau 940.000 Ha, terdiri dari 5 distrik, terbagi habis menjadi 25 kelurahan dan 14 kampung. Sedangkan untuk letak astronomis, Kota Jayapura terletak pada 1°28”17,26”LS – 3°58’082”LS dan 137°34’10,6”BT – 141°0’8’22”BT.

Perbatasan Kota Jayapura:

” Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Jayapura
” Sebelah Timur berbatasan dengan Negara Papua Nugini
” Sebelah Utara berbatasan dengan Samudera Pasifik
” Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Jayapura

Gambar 2. Jayapura dari kejauhan pemancar TVRI bhayangkara dock 5

Gambar 3. Bangunan-bangunan kota jayapura

Taman Imbi begitulah orang local menyebutnya. Taman yang saat ini difungsikan sebagai tempat nongkrong warga kota jayapura. Letaknya tepat di pusat kota. Di taman ini terdapat patung Yos Sudarso yang dibangun untuk mengenang jasa beliau yang gugur ketika bertempur melawan Belanda di laut Arafuru pada tahun 1962.

Gambar 4. Taman Imbi

 

Gambar 5. Kawasan ruko dock 2

 

Gambar 6. Mall Jayapura pusat perbelanjaan terbesar di Jayapura. Mal ini didirikan pada tahun 2012. Mal ini terdiri dari 4 lantai

Gambar 7. Suasana Jalan Ahmad yani di pagi hari

 

Gambar 8. Suasana Jalan Percetakan di pagi hari

 

Gambar 9. Jalan Sam Ratulangi dokc 2 bawah

 Gambar 10. Taman Mesran Jayapura

 

Gambar 11. Stadion Mandala

Stadion Mandala adalah sebuah stadion multi-fungsi yang terletak di Jayapura.Stadion ini dipergunakan untuk menggelar pertandingan – pertandingan sepak bola dan merupakan markas dari klub sepak bola Persipura Jayapura.

 

Catatan singkat ini pun saya tutup. Dan bersiap untuk catatan kecil lagi keesokan harinya. NEXT Exploring Papua.

NEXT Exploring Gunung Kidul (Part 1)

 

Bulan lalu, merupakan bulan yang saat istimewa bagi kami untuk kembali menyapa alam. Libur panjang yang terpampang di kalender pun segera kami manfaatkan. Dan NEXT pun berencana untuk menjelajahi pantai-pantai di wilayah Gunung Kidul, D.I. Jogjakarta. Siapa yang tidak tahu Jogjakarta, semua orang Indonesia bahkan dari manca negarapun tahu. Jogjakarta terkenal dengan istilah kota pelajar, karena dikota ini ada lebih dari 120 sekolah dan perguruan tinggi. Selain perdikat itu, Jogjakarta juga dikenal dengan nuansa alamnya yang sangat indah dan memikat, apalagi wisata pantainya, beeehhh… :D.

Ngomong-ngomong wisata pantai yang eksotis, Jogjakarta memiliki permata yang tersembunyi di selatan. Kabupaten Gunung Kidul lah tempatnya, dia menyimpan puluhan tenpat-tempat eksotis baik itu pantai, pegunungan, maupun gua-gua air dalam tanah. Gunung Kidul merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta. Kabupaten ini beribukota di Wonosari. Sebagian besar wilayah kabupaten ini berupa perbukitan dan pegunungan kapur yang merupakan bagian dari Pegunungan Sewu. Gunungkidul dikenal sebagai daerah tandus namun menyimpan beragam potensi, baik wisata, budaya maupun kuliner yang unik.

Saya bersama tujuh orang teman saya yang tergabung dalam NEXT “Nature Expedition Team” memulai perjalanan menuju TKP. Kami berangkat pukul enam pagi dari madiun. Dibutuhkan waktu kurang lebih empat jam untuk sampai di Gunung Kidul. Itupun kalo lancer hehehe… Saat itu kami berangkat pagi buta, so far tak ada kendala yang berarti kecuali masalah perut yang gak bisa di ajak kompromi hahaha… Akhirnya setelah sekitar dua jam perjalanan, kamipun beristirahat di waduk yang bernama waduk Gajah Mungkur. Waduk indah ini terletak di wilayah Wonogiri, Jawa Tengah.

Terlihat seorang nelayan menaiki perahunya untuk menjala ikan di waduk Gajah Mungkur

Selesai menunaikan sarapan pagi, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Gunung Kidul. Perjalanan panjang pun kembali kita laui, dengan jalan yang berkelok-kelok dan pemandangan persawahan khas Indonesia. Beberapa menit sebelum masuk ke Kabupaten Gunung Kidyul, kurang lebih 10 Km dari pintu masuk Kabupaten Gunung Kidul, terdapat loket wisata yang mana kita diwajibkan membayar Rp. 9.000,- per orang plus Rp. 1.000 untuk asuransi. Lepas dari loket dan tak seberapa jauh terlihat jalur menuju pantai Sadeng, Wedi Ombo dan Krokoh. Namun saya bersama tim tidak singgah ke pantai itu, kami memfokuskan ke Pantai Pulang Sawal (Indrayanti).

Perjalanan panjang menuju Pantai Pulang Sawal pun kembali kita lahap. Eksotisme jalur selatan ini memang nggak ada matinya, Indonesia banget! Cukup lama perjalanan dan akhirnya kami sampai. Sesampainya disana saya agak terkejut melihat perkembangan selama tiga tahun terakhir. Pantai ini sungguh ramai pengunjung, banyak rombongan bus-bus dari dalam maupun luar daerah yang singgah di pantai ini. Mungkin karena pengelolaannya yang bagus hingga pantai ini menjadi salah satu pantai terfavorit di Gunug Kidul untuk disinggahi. Kami memarkir kendaraan kami dan beristirahat melepas kepenatan selama perjalanan di gazebo yang sudah disediakan pengelola pantai. Sambil menikmati semilir angin dan desiran ombak pantai yang landai.

Yang unik dari pantai ini terdapat bukit karang yang dibawahnya tergerus abrasi air laut yang ditumbuhi biota-biota laut seperti rumput laut dalam hati saya berkata, “enak nih kalo di bikin es campur, seggerr :D” tampak indah dan alami.

Hamparan rumput laut tumbuh subur menghijau dibawah karang

Pantai pulang sawal terlihat cantik dari atas bukit karang

Diatas, tentu saja bukit karang, disinilah alasan kenapa kami singgah pertama kali di pantai ini, karena disini kita bias melihat sunset langsung. Melihat matahari ditelan luasnya hamparan laut, disini merupakan view point yang ciamik mengabadikan momen-momen indah saat matahari terbenam dan juga buat tempat narsis tentunya hahaha..

Sunset di pantai Pulang Sawal

Hingga gelappun datang menutupi langit, kami memutuskan mencari penginapan tapi diluar area Pantai Pulang Sawal ini, kenapa? Karena penginapan disini mahal-mahal :P,  kami memutuskan menuju Pantai Kukup tang berlokasi di sebelah barat Pantai Sepanjang. Namun, sebelum bergegas, kami sempatkan mampir ke rumah makan Pak Ngatno yaitu Griyo Wono karena lokasinya memang kebetulan satu arah ke pantai. Pak Ngatno ini adalah seorang mantan lurah yang dulunya seorang polisi. Dan beliau sekarang kembali bertugas sebagai Kapolsek didaerah setempat. Kami sudah mengenal baik beliau sejak 3 tahun yang lalu. Orangnya sangat ramah dan sangat visioner dalam memajukan masyarakat sekitar.

Setelah selesai beristirahat sejenak untuk mandi dan lain-lain, kami memutuskan bermalam di penginapan Kukup Indah, yang jaraknya hanya 50 m dari bibir Pantai Kukup. Kami melepas penat seharian setelah perjalanan panjang yang telah kami lalui, saatnya beristirahat bersiap untuk catatan besok hari.

Catatan singkat ini pun saya tutup. Dan bersiap untuk catatan kecil lagi keesokan harinya. NEXT Exploring Gunung Kidul #day 2

 

Teks oleh Farid Syaiful
Foto oleh Farid Syaiful dan Kristiyan Andi

 

Ranu Regulo: Sudut Keheningan Desa Ranu Pani

 

Setelah sempat mendatangi tempat ini satu bulan yang lalu, saya berharap bias mendirikan tenda disini dan menikmati kesunyian ranu ini. Baru pada hari sabtu (25/1) angan saya itu terwujud. Berbekal Eiger Olivine isi lima orang, saya dan beberapa teman mendirikan tenda disana.

Sesampai di pos pemberangkatan pendakian semeru, kami memarkir motor di warung-warung milik warga. Sangat dekat sekali jaraknya dengan pos pendakian, cukup berjalan sekitar 15 menit.
Namun ada yang aneh di Pos pendakian saat itu. Pos yang biasanya sangat ramai, kini berubah menjadi sepi, sama sekali tidak ada orang. Bahkan pintu pos pun tertutup. Setelah sedikit merasa heran dan bingung, ada seorang mengahmpiri kami. Dia mengatakan kalau pendakian ditutup hingga April 2014 karena ada badai ganas di Ranu Kumbolo. Selain itu liburnya pendakian sebagai upaya untuk restorasi alam semeru yang rusak akibat pendaki pemula yang seenaknya sendiri membuang sampah. Mungkin dia mengira kami akan mendaki, padahal tidak.
Dia memperkenalkan diri, namanya Mas Arena. Dia teman sejawat dengan Mas Andi Gondrong yang telah aku kenal sebelumnya. Arena adalah petugas pelestarian edelweiss di sekitar Ranu Regulo. Beruntung kami mengenalnya. Sehingga dia menawarkan rumah kayu tempanya meneliti untuk bermalam. Tapi tidak, kami membawa tenda kami sendiri.
Perjalanan pun terasa sangat singkat. Dan sampai lah kami..
Selamat pagi Ranu Regulo; Keindahan dibalik bukit Desa Ranu Pani
Bermalam satu malam serasa kurang. Sekarang, menurut saya, kesunyian Ranu Regulo masih tak terkalahkan daripada Ranu Kumbolo…
 
Sinar matahari pagi menyinari kesunyian disini
 
Ranu Regulo cenderung masih asri dan bersih jika dibandingkan dengan Ranu Pani
Sambil menikmati udara pagi, matahari perlahan menyembunyikan parasnya. Pemandangan pun sontak berubah. Warna-warna dedaunan berubah menjadi hangat.
(Secara teknis motret, eksposurenya udah berubah lagi. Menerapkan WB ke suhu Kelvin yang lebih hangat. Dan jadilah…)
 

Warna hangat dedaunan diperoleh saat matahari tertutup samar awan tipis. Permainan eksposure dan white balance mempengaruhi keseluruhan scene mejadi lebih hangat

 

*Teks dan foto oleh Yudi Indra Setyawan