Mengunjungi Desa Tertinggi di Jawa (Part II)

Pukul 07.15 saya memasuki wilayah taman nasional. Jalanan sengaja dibuat dari batu-batu gunung yang tersusun rapi berbentuk kotak-kotak mirip tembok bata di dinding rumah. Dari sini, style ku berkendara sudah harus berubah. Mulai dari bikers jalan aspal menjadi bikers jalan batu dan tanah yangh terjal. Lereng-lereng terjal bertaburkan pohon-pohon khas dataran tinggi selalu setia menemani diriku yang berkonsentrasi penuh dengan kendali motor.
 
Pemandangan disekitar Desa Ngadas
Jalanan berbatu itu tidak mengijinkan diriku untuk memacu motorku lebih cepat, maksimal aku gunakan gigi dua untuk menanjak, fiuuhh… Sambil berdiri di foot step, tanganku dengan terampil mengedalikan sepeda motor.
Pukul 07.50 saya sampai di Desa Ngadas, Kecamatan Tumpang. Desa tertinggi kedua di Indonesia yang terletak di 2.100 mdpl. Memasukki gerbang desa, saya berhenti sejenak untuk istirahat di sebuah warung kecil milik warga. Warung itu sederhana, hanya menjual minuman dan sedikit sekali makanan ringan, maklum karena tempat in sangat jauh dari peradaban kota. Sambil menikmati kopi pagi itu, saya bertanya kepada pemilik warung apakah ada rumah warga yang bisa disewa untuk ditempati. Pemilik warung itu pun memanggil suaminya yang ternyata membuka usaha tepat disamping kanan warung. Mas Gimbal, begitu warga menyebutnya, mempunyai bengkel dan tambal ban satu-satunya di desa Ngadas. Jika kalian pernah melihat reality show Jackass yang konyol itu, wajah orang ini mirip sekali dengan Chris Pontius yang berambut gondrong dan konyol wajahnya hehehe…
Dia bercerita mengenai rumah-rumah warga yang bisa dijadikan tempat tinggal. Ternyata peraturan disini sangat ketat. Tidak semua orang bisa bermalam di pemukiman suku Tengger ini. Warga akan meminta kepada kita beberapa dokumen pribadi kita, seperti KTP dan buku nikah bagi yang datang berpasangan. Untuk KTP mungkin tidak menjadi masalah, tetapi untuk buku nikah lain cerita. Pasangan yang sudah menikah harus menunjukkan buku nikah mereka sebelum bermalam di rumah warga. Masalahnya: kita tentunya tidak mungkin membawa buku nikah kemana-mana bukan?
Akhirnya saya memutuskan untuk menginap saja di rumah warga. Mas Gimbal dengan senang hati segera mengantar saya ke rumah salah satu warga disana. Harga untuk homestay disini sengaja dipukul rata 250 ribu per hari. Jika beruntung, kita sudah mendapat hidangan makan dari warga.
Mas Gimbal memperkenalkan diriku dengan seorang warga bernama Pak Budiono. Dan disitulah nantinya saya bermalam. Pertama kali bertemu dengannya, saya sedikit terkejut. Pasalnya dia mirip sekali dengan Didi Nini Towok, seniman Tari dari Jogja. Gaya bicaranya pun mirip, semi-semi kewanitaan lah hahaha… Pak Budi ini punya warung bakso dan sesuai dugaan: ini satu-satunya warung bakso di desa ini.
Setelah berbincang, pak Budi pun segera menujukkan kamarnya. Sebenarnya, menurutku itu lebih mirip sebuah bungalow kayu. Dengan satu tempat tidur dan kamar mandi di dalamnya. Kamar itu sangat lah luas, seluruh dinding dan lantainya terbuat dari kayu jati, kasurnya pun empuk seperti kasur di hotel-hotel mewah, dan yang paling isitmewa ketika membuka jendela: pemandangan ladang warga dengan background gunung Semeru yang menjulang ke atas. Terlihat jelas pasir-pasir vulkanik di Mahameru. Sepertinya hari ini keberuntungan berpihak kepadaku.
 
Pemandangan dari dalam kamar
Sejenak kunikmati alam pedesaan disitu dengan merebahkan diri di kasur. Angin bertiup sangat lembut namun dingin menusuk tulang. Diriku membayangkan damainya orang-orang disini dengan lingkungan yang asri, hijau, dan sejuk seperti ini. Sementara kutanggalkan segala beban masalah dan kesumpekkan suasana Malang. Jalanan macet, polusi, emosi di kantor, semua kubuang jauh-jauh saat itu. Kuhirup dalam-dalam udara pagi itu, kuhirup semua anugerah Tuhan ini. Pohon-pohon diseluruh bukit nan jauh disana seakan-akan kompak untuk meniupkan nafasnya ke arah kamar. Semakin membuatku jatuh cinta dengan desa ini. Tenang, nyaman, dan indah.
 
Lahan pertanian milik warga ngadas
 
 Lereng indah yang dipenuhi perkebunan sayur milik warga
Tepat pukul 13.00 WIB. Diriku terbangun, tubuhku sedikit beradaptasi dengan hawa dingin disini (meskipun ini tengah siang). Segera kuambil peralatan menggambarku yang sudah kusiapkan sejak kedatangan tadi. Cuaca cukup cerah dan terik, mengingat ini musim penghujan. Kupacu sepeda motorku menuju jauh di ujung timur desa, menuju desa tertingi di Jawa.
Teks dan foto oleh Yudi Indra Setyawan

Comments

comments