Ranu Regulo: Sudut Keheningan Desa Ranu Pani

 

Setelah sempat mendatangi tempat ini satu bulan yang lalu, saya berharap bias mendirikan tenda disini dan menikmati kesunyian ranu ini. Baru pada hari sabtu (25/1) angan saya itu terwujud. Berbekal Eiger Olivine isi lima orang, saya dan beberapa teman mendirikan tenda disana.

Sesampai di pos pemberangkatan pendakian semeru, kami memarkir motor di warung-warung milik warga. Sangat dekat sekali jaraknya dengan pos pendakian, cukup berjalan sekitar 15 menit.
Namun ada yang aneh di Pos pendakian saat itu. Pos yang biasanya sangat ramai, kini berubah menjadi sepi, sama sekali tidak ada orang. Bahkan pintu pos pun tertutup. Setelah sedikit merasa heran dan bingung, ada seorang mengahmpiri kami. Dia mengatakan kalau pendakian ditutup hingga April 2014 karena ada badai ganas di Ranu Kumbolo. Selain itu liburnya pendakian sebagai upaya untuk restorasi alam semeru yang rusak akibat pendaki pemula yang seenaknya sendiri membuang sampah. Mungkin dia mengira kami akan mendaki, padahal tidak.
Dia memperkenalkan diri, namanya Mas Arena. Dia teman sejawat dengan Mas Andi Gondrong yang telah aku kenal sebelumnya. Arena adalah petugas pelestarian edelweiss di sekitar Ranu Regulo. Beruntung kami mengenalnya. Sehingga dia menawarkan rumah kayu tempanya meneliti untuk bermalam. Tapi tidak, kami membawa tenda kami sendiri.
Perjalanan pun terasa sangat singkat. Dan sampai lah kami..
Selamat pagi Ranu Regulo; Keindahan dibalik bukit Desa Ranu Pani
Bermalam satu malam serasa kurang. Sekarang, menurut saya, kesunyian Ranu Regulo masih tak terkalahkan daripada Ranu Kumbolo…
 
Sinar matahari pagi menyinari kesunyian disini
 
Ranu Regulo cenderung masih asri dan bersih jika dibandingkan dengan Ranu Pani
Sambil menikmati udara pagi, matahari perlahan menyembunyikan parasnya. Pemandangan pun sontak berubah. Warna-warna dedaunan berubah menjadi hangat.
(Secara teknis motret, eksposurenya udah berubah lagi. Menerapkan WB ke suhu Kelvin yang lebih hangat. Dan jadilah…)
 

Warna hangat dedaunan diperoleh saat matahari tertutup samar awan tipis. Permainan eksposure dan white balance mempengaruhi keseluruhan scene mejadi lebih hangat

 

*Teks dan foto oleh Yudi Indra Setyawan

Comments

comments