NEXT EXPLORING WEST PART OF EAST JAVA HUTAN PRANTEN: RUTE LAMA YANG TERLUPA

Hutan Pranten terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah; tepatnya di Dukuh Tlogodringo, Dusun Gondosuli Lor, Desa Gondosuli. Sangat mudah menemukan tempat ini, karena terletak di pinggir jalan raya Magetan-Karanganyar. Dukuh ini hanya berjarak satu kilometer dari jembatan perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Salah satu ciri yang menonojol dari tempat ini adalah adanya sebuah vihara yang berdiri di sisi timur dukuh.

Kami masing-masing berangkat dari Madiun dengan meeting point di depan pos pendakian Cemoro Sewu, Magetan. Tepat pukul 06.00 WIB semua personel sudah berkumpul dan siap melanjutkan perjalanan menuju Karanganyar. Setelah satu kilometer lepas dari perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, kami pun melihat dukuh di sisi kiri. Berselimut kabut tipis, dukuh ini terlihat sangat tenang dan damai. Di sisi timur, nampak bangunan menyerupai menara yang tak lain adalah vihara. Masyarakat dukuh menyebutnya dengan Vihara Lawu.

Jalanan indah akan kita lewati sepanjang perjalanan melewati lereng Gunung Lawu. Jalan ini akan mengantarkan kita sampai ke Karanganyar, Jawa Tengah.

Foto 1. Jalanan indah akan kita lewati sepanjang perjalanan melewati lereng Gunung Lawu. Jalan ini akan mengantarkan kita sampai ke Karanganyar, Jawa Tengah.

Memasuki dukuh kami segera mencari rumah warga yang bisa kami mintai pertolongan sebagai tempat penitipan motor. Akhirnya kami pun menemukan rumah salah seorang warga yang dengan senang hati menawarkan halamannya untuk parkir motor kami. Kebetulan juga lokasi rumah tersebut dekat dengan vihara tadi. Selesai mempersiapkan peralatan, kami bergegas menuruni bukit di samping vihara. Dan pemandangannya pun sangat luar biasa.

Foto 2. Pemandangan Indah Perkebunan Strawberry dari Bawah Vihara Lawu, Dusun Tlogodringo.

 

Foto 3. Ladang telah selesai digarap dan siap untuk ditanami sayuran dan buah-buahan.

Hamparan luas tanaman sayuran dan strawberry terpapar di hadapan mata kami. Terlihat beberapa warga dukuh sedang menggarap lahan. Sepertinya mereka baru saja memanen strawberry dan bersiap untuk musim tanam selanjutnya. Berbekal informasi dari sekelompok orang yang kami temui pada minggu sebelumnya, kami pun berjalan terus mengikuti setapak kecil yang berliku. Melewati hijaunya padang rumput yang terhampar luas. Hewan-hewan ternak dengan asyiknya merumput di pagi hari.

Foto 4. Rerumputan di dusun ini cukup lebat dan sangat hijau. Tempat ideal untuk berternak kambing di dataran tinggi seperti ini.

Kita flashback sebentar, sebetulnya kami tidak berniat untuk datang ke tempat ini. Namun karena dua minggu yang lalu ketika kami berhenti untuk melihat-lihat perkebunan disini, ada sekelompok orang yang muncul dari balik bukit. Ada yang aneh karena mereka terlihat bukan lah warga asli dukuh ini. Kebanyakan adalah orang tua dan mengenakan pakaian rapi. Spontan kami bertanya dari mana mereka. Orang-orang tersebut menjawab bahwa mereka baru saja dari sebuah sendang (sumber air) yang berada di alas Pranten (Hutan Pranten). Berbekal informasi itu lah kami bertekad meneksplore hutan tersebut.

Foto 5. Terlihat orang-orang yang baru saja melakukan ritual di sumber mata air telah kembali dari Hutan Pranten yang terletak di belakang mereka.

 

Foto 6. Rombongan peziarah ini berasala dari berbagai daerah di sekitaran Gunung Lawu. Bahkan ada diantara mereka yang berasal dari Cilacap.

Entah hanya insting kami saja atau bagaimana, yang jelas kami tiba-tiba tertarik sekali untuk masuk jauh lebih dalam ke hutan itu nantinya. Apalagi kami teringat ucapan Pak Wagimin, warga Dusun Ngancar beberapa waktu yang lalu. Dia mengatakan bahwa jaman dahulu kala ada sebuah jalan setapak melalui hutan mulai dari dusunnya yang terletak di bawah Telaga Sarangan menuju ke Cemoro Sewu (Jawa Timur) dan Cemoro Kandang (Jawa Tengah). Namun menurut dia, jalan setapak itu kemungkinan sudah tidak ada karena terutup oleh lebatnya hutan.

Sepanjang perjalanan, kami membayangkan menemukan jalan setapak tersebut. Dengan penuh semangat, kami pun tancap gas melewati kebun sayur dan strawberry. Selepas melewati hamparan luas ladang perkebunan ini, kami menuju ke sebuah bukit kecil mengikuti jalan setapak tadi. Akhirnya sampai lah kita di atas bukit tersebut. Ternyata di balik bukit tersebut sudah masuk wilayah hutan, dan selamat menjelajah.

Foto 7. Hutan Pinus yang lebat masih tertanam asri di sepanjang jalan setapak menuju hutan.

Pada awalnya, kami tidak menemui kendala apapun. Jalan setapak yang kami lalui masih terlihat jelas dan lebar. Baru lah kira-kira 15 menit berjalan kaki, jalan tanah ini mulai menunjukkan sikap yang tidak bersahabat. Jalanan ini bercabang-cabang, banyak sekali persimpangan. Awalnya kami ragu akan memilih jalan yang mana. Akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalan yang terlihat paling sering dilewati saja. Hal ini terlihat dari kontur tanah yang sedikit amblas dan juga ada beberapa bekas plastik makanan yang berserakan di tepian jalan. Agar tidak tersesat kami pun memasang penanda berupa plastik merah yang diikatkan pada batang-batang pohon. Mengingat begitu banyak persimpangan disini, mengandalkan kompas bidik saja tidak cukup. Terkadang kita masih harus menggunakan cara-cara konvensional seperti ini. Never compromise with nature.

Semakin jauh kami masuk, suasana pun semakin hening. Terdengar bermacam-macam suara burung, ayam hutan, juga suara anjing liar sejenis Ajax. Sungguh surga bagi penggemar fotografi wildlife. Begitu kayanya keanekaragaman hayati disini. Tumbuhan di hutan ini pun beraneka ragam dan sangat lebat. Sungguh suatu kebangaan melihat hutan ini masih terawat dengan baik. Dan kam pun terus masuk ke hutan. Dan terus masuk ke dalam. (Bersambung).

Foto 8. Memasuki hutan, medan mulai terasa sangat sulit. Tumbuhan menjalar mulai menutupi jalan setapak.

 

Foto 9. Vegetasi yang masih alami terlihat begitu kita mulai memasuki wilayah hutan.